Selasa, 29 Januari 2013
Macam-macam Gerak pada Tumbuhan
Tumbuhan peka terhadap rangsang sentuhan / mekanik, cahaya, air, suhu, gravitasi, dan zat kimia. Gerak tumbuhan yang merupakan reaksi terhadap faktor lingkungan / faktor luar disebut gerak etionom. Sedang gerak tumbuhan yang tidak dipengaruhi faktor dari luar disebut gerak endonom / autosom / spontan.
Gerak etionom dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Gerak Nasti
Gerak Nasti adalah gerak bagian tubuh tumbuhan yang arahnya tidak dipengaruhi oleh arah datangnya rangsang. Gerak nasti disebabkan oleh perubahan tekanan turgor didalam sel penyusun tumbuhan. Tekanan Turgor adalah tekanan total molekul air terhadap dinding sel. Jika kadar air sel tinggi maka tekanan turgor kuat, dan sebaliknya. Gerak nasti dibagi lagi menjadi 5 berdasarkan jenis rangsangannya seperti berikut :
a. Seismonasti (Tigmonasti)
Seismonasti adalah gerak nasti yang disebabkan oleh rangsangan berupa sentuhan / tekanan.
Contoh : membuka dan menutupnya daun putrid malu (mimosa pudica).
b. Termonasti
Termonasti adalah gerak nasti karena pengaruh suhu / temperature.
Contoh : Membukanya bunga tulip karena pengaruh temperature yang biasa ini terjadi pada daerah dingin.
c. Fotonasti
Fotonasti adalah gerak nasti yang disebabkan karena rangsang berupa cahaya.
Contoh dari gerak fotonasti :
- Gerak mekarnya bunga pukul empat (Mirabilis jalapa)
- Gerak mekarnya bunga waru (Hibiscus tiliaceus)
- Gerak mekarnya bunga kupu-kupu.
d. Niktinasti
Niktinasti adalah gerak menutup/rebahnya tumbuhan pada saat hari gelap/menjelang malam. Gerak ini terjadi karena perubahan tekanan turgor pada pulvinus seperti halnya pada seismonasti.
Contoh : gerak tidur petai daun petai cina pada malam hari.
e. Nasti kompleks
Nasti kompleks adalah gerak nasti yang disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus yang terkait.
Contoh : Gerak membuka dan menutupnya sel penutup pada stomata.
2. Gerak Tropisme
Gerak Tropisme adalah gerak tumbuh bagian tubuh tumbuhan. Gerak tumbuh ini dapat mendekati/menjauhi sumber rangsang. Jika gerakannya mendekati sumber rangsang disebut tropisme positif, dan sebaliknya. Gerak tropisme dibagi menjadi 7, yaitu :
a. Fototropisme
Fototropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan mendekati / menjauhi cahaya matahari. Fototropisme positif (mendekati arah sinar) diperlihatkan oleh pertumbuhan tunas-tunas daun/batang, sedangkan fototropisme negatif (menjauhi arah sinar) diperlihatkan oleh gerak tumbuh akar.
b. Geotropisme
Geotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan mendekati/menjauhi arah gaya gravotasi bumi. Geotropisme yang mendekati gaya gravitasi bumi (+), contohnya gerak tumbuh akar. Geotropisme yang menjauhi gaya gravitasi bumi (-), contohnya gerak tumbuh batang.
c. Tigmotropisme / Haptotropisme
Tigmotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena ada rangsang berupa sentuhan / singgungan. Contoh : gerak sulur yang melilit pada tumbuhan anggota familia cucurbitaceae, anggur, dan beberapa leguminosae.
d. Kemotropisme
Kemotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena rangsang yang berupa zat / bahan kimia.
Contoh-contoh Kemotropisme :
- Gerak tumbuh akar menuju ke daerah-daerah yang banyak mengandung unsur-unsur hara.
- Gerak berbeloknya ujung akar menjauhi besi yang berkarat didalam tanah.
- Gerak benang sari menuju ke indung telur karena adanya rangsang berupa senyawa kimia yang dikeluarkan oleh indung telur.
e. Hidrotropisme
Hidrotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena ada rangsang berupa air.
Contoh Hidrotropisme : gerak tumbuh akar yang menuju ke daerah yang lebih banyak mengandung air.
f. Reotropisme
Reotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena rangsang berupa arus air.
Contoh : gerak tumbuhan air yang tumbuh searah dengan arus air pada sungai-sungai yang berarus deras.
g. Termotropisme
Termotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena rangsng berupa panas. Bagian tubuh tumbuhan dapat bergerak mendekati/menjauhi panas.
3. Gerak Taksis
Gerak Taksis adalah gerak pindah tempat tubuh tumbuhan yang arahnya ditentukan oleh arag datangnya rangsang.
Gerak Taksis dibedakan menjadi 2, yaitu :
a. Fototaksis
Fototaksis adalah gerak pindah tempat tumbuhan karena adanya rangsangan berupa sinar matahari.
Contoh :
Gerak sopra kembara dari jamur Pilobolus
Gerak kloroplas menuju sisi sel yang mendapat sinar matahari
Euglena pada pagi hari bergerak kearah datangnya sinar matahari, tetapi pada siang hari Euglena akan bergerak menjauhi sinar matahari.
b. Kemotaktis
Kemotaktis adalah gerak pindah tempat tumbuhan karena adanya rangsangan berupa zat kimia.
Contoh :
Bakteri aerob pada percobaan Engelmann bergerak menuju bagian pita kloroplas yang terkena cahaya karena bagian tersebut mengeluarkan oksigen.
Gerak spermatozoid pada lumut / tumbuhan paku menuju sel telur karena pengaruh zat kimia berupa zat gula / protein.
Senin, 28 Januari 2013
Macam Macam Majas
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Dalam Bahasa Indonesia, majas terdiri dari 4 jenis:
1. majas perbandingan
2. majas sindiran
3. majas penegasan
4. majas pertentangan
Majas Perbandingan
1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6. Sinestesia: Metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain.
7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menyampaikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
Majas Sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Majas Penegasan
1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Majas Pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
segitu dulu yah ... semoga bermanfaat .. OwO
Dalam Bahasa Indonesia, majas terdiri dari 4 jenis:
1. majas perbandingan
2. majas sindiran
3. majas penegasan
4. majas pertentangan
Majas Perbandingan
1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6. Sinestesia: Metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain.
7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menyampaikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
Majas Sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Majas Penegasan
1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Majas Pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
segitu dulu yah ... semoga bermanfaat .. OwO
Tips Belajar yang Menyenangkan
Kita sering kali putus
asa dengan nilai pelajaran yang buruk...padahal jelas-jelas kita sudah
melakukan dan berusaha dengan sebaik mungkin....tapi hasilnya...buruk...jadi
gimana donk cara nya atau tips wat agar kita ga putus asa ???dengan nilai-nilai
kita??,bahkan gimana caranya supaya kita jadi produktif mendapat nilai-nilai
yang bagus-bagus alias memuaskan ....
daku punya beberapa tips untuk mengatasi hal tersebut dan terbukti ampuh .... hehehehe....
1.Coba dech kita belajar dengan menggunakan hati kita,kita mulai belajar dengan
penuh keikhlasan untuk belajar pelajaran itu,ga usah ngedumel kalo ortu atau
guru meminta kita wat belajar pelajaran itu.
2.Cobalah untuk mensugestikan bahwa pelajaran itu adalah pelajaran favorit
kamu,dan itu adalah pelajaran yang menyenangkan.
3.Sisihkan waktu 15menit aja wat membaca buku pelajaran itu,atau kalo itu
pelajaran Matematika ,coba lah latihan-latihannya cukup 15menit secara rutin ya
,itu dapat membantu kamu untuk memahami dan mencintai pelajaran itu...
4.Jangan kaku dengan kondisi belajar ,maksudnya belajar ga cuma di dalam
ruangan yang hening,yang ada meja kursi dan fokus belajar....coba gaya baru
belajar ,sah-sah aja klo kita belajar di foodcurt mall,atau di taman,atau di
angkot sekaligus juga ga masalah... belajar sambil dengerin musik juga membantu otak kita menyerap pelajaran.... yang penting buat lah agar kamu nyaman pada saat belajar....
5.sebelum belajar coba jangan terlalu memakan makanan yang berlemak,dan
usahakan kondisi perut dalam keadaan yang ga terlalu kenyang alias
secukupnyalah... kalau bisa sebelum belajar atau saat belajar kita makan atau
nyemil buah segar aja...dan hindari snack yang gurih /mengandung fetsin/rasa
manis....
6.jangan belajar di atas tempat tidur ,karna hal itu bisa mensugesti kita jadi
malas dan mengantuk.
7.ketika sudah mengantuk ,yuksss kita peregangan sebentar aja ....gerak-gerakan
tubuh kita sampil belajar...
8.jangan paksakan diri kita kalau diri kita lagi ga mood wat belajar...alhasil
bukan nyaman tapi malah sebaliknya...kita jd merasa tertekan.
9.tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan-lahan,tenangkan diri kita ketika
kita mulai belajar.
10.olah raga di pagi hari,cukup membantu loch untuk menjauhkan kita dari
stres...
11.jangan hanya belajar terus menerus..kita juga harus kudu berrekreasi ....
bersenda gurau bersama teman itu penting unutk melepaskan ke penatan
kita..loch...
12.usahakanlah setiap harinya kita tertawa dan bahagia ,hal ini penting untuk
menjaga mood kita agar selalu bersemangat dan jauh dari rasa bosen dan
males....
wah....udah kyanya tipsnya..semoga bermanfaat ya ^^,oh ya jangan lupa klo mau
yang top bgt,belajar bareng sama pacar juga boleh loch...xixixixixixi....
selamat mencoba ya semoga sukses ^^
Manfaat Medan Magnet Bumi
Manfaat Medan Magnet Bumi
1.
Mempengaruhi arah jarum kompas
Dari hari ini timbul pertanyaan, apakah
jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara-selatan? Jawabannya ternyata “tidak
selalu”. Kutub magnet bumi tidak sama dengan kutub geografis bumi.
Medan magnet bumi yang digambarkan dengan
gari putus-putus itu ternyata arahnya berbeda-beda di tiap tempat di muka bumi
ini.
2.
Menjadi Perisai Bumi
Sabuk Van
Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga
berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita.
Dr Hugh
Ross telah meneliti peran penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan Manusia. ”Bumi
ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya
kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan
keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan
pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi
dari luar angkasa.”
”Jika
lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat
berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan
memiliki medan magnet adalah Merkurius – tapi kekuatan medan magnet planet ini
100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak
memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah
rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi.(Dr Hugh Ross, 1998. Reasons To
Believe, Pasadena, CA.)
Bahkan hal
ini telah diungkapkan di dalam Al-Qur’an , Al-Anbiya [21] ayat 32. “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara,
sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) itu
(matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain).”
3.
Menjadi Jalur Alternatif untuk Terapi Kesahatan
Magnet sudah lama diyakini memiliki
kekuatan penyembuhan untuk nyeri otot dan kekakuan pada bagian tubuh.
Penggunaan magnet untuk manfaat medis ini bisa dirunut kembali ke Mesir kuno
dan juga Yunani kuno ketika Hippocrates (bapak kedokteran) yang menggunakan batu
magnet untuk mengobati kemandulan. Orang kuno di India menggunakan magnet untuk
mengatasi Insomnia.
Teks medis kuno Cina yang dikenal sebagai
Prinsip Dasar Ilmu Kedokteran Penyakit Dalam Kekaisaran Kuning menggambarkan
prosedur ini. Veda, atau tulisan suci Hindu kuno, juga menyebutkan pengobatan
penyakit dengan Batu Magnet. Kata “batu magnet” atau batu terkemuka, berasal
dari penggunaan batu ini sebagai kompas.
Ada dua teori yang digunakan untuk
menjelaskan terapi magnetik. Satu teori menyatakan bahwa magnet menghasilkan
sedikit arus listrik. Saat magnet diterapkan pada daerah tubuh yang sakit,
syaraf-syaraf di daerah itu akan di rangsang, sehingga melepaskan obat
penghilang rasa sakit alami pada tubuh. Teori lainnya menyatakan bahwa ketika
magnet diterapkan pada daerah tubuh yang sakit, semua sel di daerah itu akan
bereaksi untuk meningkatkan sirkulasi darah, pertukaran ion, dan aliran oksigen
ke daerah ini. Medan magnet menarik dan menolak partikel-partikel bermuatan
dalam aliran darah, meningkatkan aliran darah dan menghasilkan panas.
Peningkatan oksigen dalam jaringan dan aliran darah dianggap punya kontribusi
yang cukup besar dalam kecepatan penyembuhan.
Sifat magnet memicu partikel positif dan
negatif dalam darah kita untuk menjadi aktif dan lebih hidup. Darah akan
mengalir lebih cepat di daerah tempat magnet ditempelkan. Karena darah mengalir
lebih cepat, lebih banyak oksigen akan diterapkan ke area tubuh tertentu.
Dengan lebih banyak oksigen, kemampuan penyembuhan alami orang tersebut
meningkat.
4.
Membantu Burung Bermigrasi atau Memandu Arah
Terbang Mereka
Dalam bermigrasi, burung sedikit tergantung
dengan medan magnet. Burung menggerakkan kepalanya untuk mendeteksi arah medan
magnet, dan penelitian yang dilakukan di sistem saraf burung menunjukkan bahwa
burung dapat "melihat" medan magnet. Mata kanan burung migran
mengandung protein fotorereseptiv yang disebut criptocrom. Cahaya merangsang
molekul-molekul yang ada di dalam criptocrom untuk menghasilkan elektron bebas
yang berinteraksi dengan medan magnet bumi, sehingga memberikan informasi
tentang arah.
Sejak zaman dahulu manusia telah
menggunakan merpati untuk mengirimkan berita kepada para penerimanya di tempat
yang jauh. Misalnya, di Baghdad pada tahun 1150 terdapat bukti bahwa burung
merpati telah dimanfaatkan untuk mengirimkan berita.
Para peneliti sebelumnya telah menemukan
butiran-butiran magnetik pada paruh merpati. Untuk menguji benar tidaknya
bagian paruh merupakan pusat pengindra magnetik burung tersebut, Mora
menempelkan magnet kecil pada paruh tiap-tiap burung yang akan melemahkan
kemampuannya dalam mengenali medan magnet. Hasilnya, terjadi penurunan yang
nyata pada kemampuan mengindra medan magnet. Tingkat keberhasilannya menurun
hingga di bawah 50%. Akan tetapi, sang burung mampu mengatasi gangguan yang
diakibatkan oleh magnet, dan seiring dengan hal tersebut, teramati bahwa
tingkat keberhasilan ini meningkat kembali.
Namun, ketika bahan yang tidak memiliki
daya magnetik (yang terbuat dari kuningan, misalnya) ditempelkan pada paruh mereka,
tidak ada pengaruh terhadap kemampuan mengindra medan magnet. Sama halnya,
pembedahan yang dilakukan untuk menghilangkan fungsi saraf penciuman pada paruh
merpati juga gagal melemahkan kemampuan ini.
Penemuan-penemuan ini memperkuat teori yang
menyatakan bahwa merpati memandu arah terbangnya menggunakan medan magnet yang
melingkupi bumi.
5.
Sebagai Sarana Pendeteksi Terjadinya Gempa Bumi
Bagi Hewan
Penelitian yang dilakukan di Cina telah
mengindikasikan bahwa pengakuan dari perilaku binatang yang tidak biasa dengan
cara yang sistematis dapat memimpin dan digunakan, bersama dengan metode lain,
sebagai sarana untuk memprediksi besar dan gempa bumi yang berpotensi merusak.
Berikut adalah contoh-contoh mengamati perilaku binatang yang tidak biasa sebelum
gempa bumi besar terjadi.
Survei dilakukan di Cina menunjukkan bahwa
jumlah terbesar kasus perilaku binatang yang tidak biasa mendahului gempa bumi,
terutama dalam 24 jam sebelum membentur. Di bagian lain Cina di mana gempa bumi
besar telah didahului oleh foreshocks, perilaku tidak biasa pada tikus, ikan,
dan ular yang diamati sejak tiga hari sebelum gempa, tapi terus beberapa jam,
atau bahkan beberapa menit sebelumnya.
Sebagai contoh, anjing mungkin dapat
mendengar batu microfacturing beberapa milidetik sebelum guncangan gempa
mencapai permukaan. Perubahan elektromagnetik di bumi sebelum gempa bumi dapat
dirasakan oleh hewan seperti ikan hiu dan lele yang memiliki frekuensi rendah
atau tinggi reseptor dan rasa perubahan seperti itu secara aktif atau pasif.
Perubahan Electromechanic yang terjadi
sebelum terjadinya gempa bumi yang besar dapat dirasakan oleh hewan tertentu
dan disaring, lalu secara naluriah ditafsirkan. Jadi binatang mungkin memiliki
sarana dan kepekaan untuk memilah dan membedakan yg menandakan sinyal mengancam
datangnya dari sebuah gempa bumi, sehingga mengaktifkan sebuah pola perilaku
untuk bertahan hidup.
Ini yg menandakan electromechanic
elektromagnetik atau perubahan yang mendahului gempa bumi, walaupun dicampur
dengan kebisingan latar belakang, dapat disaring oleh hewan dan dikoordinasikan
melalui indra mereka terhadap lingkungan total. Dengan demikian, perilaku
ditentukan oleh kepekaan yang berbeda bagian-bagian komponen sistem yang hidup
untuk medium sekitarnya. Percobaan dengan instrumen baru dan elektronik sensor
solid state yang digunakan sekarang untuk menentukan respons hewan kejadian
bencana yang akan datang.
Yak .. segitu dulu yah semua ... semoga bermanfaat (maaf ga ada gambarnya sama sekali >/\<)
Langganan:
Postingan (Atom)